INSIGHT / KAPASITAS DAN PERENCANAAN
Kapasitas 1 ton/jam:
angka ini dibaca bagaimana?
Kapasitas mesin bukan satu angka yang berlaku untuk semua material. Sebelum membandingkan penawaran, pastikan angka itu mengacu pada sampah masuk, fraksi setelah pemilahan, material setelah dewatering, atau umpan yang benar-benar masuk reaktor.

DEFINISI KAPASITAS
Empat angka yang
sering tercampur.
Sampah masuk
Material dari truk atau gerobak sebelum logam, tanah, plastik, dan air dipisahkan. Angka ini paling mudah ditimbang, tetapi belum menggambarkan beban setiap unit proses.
Fraksi terpilah
Bagian yang diarahkan ke jalur organik atau jalur kering setelah pemisahan. Berat dan komposisinya berubah menurut sumber sampah dan cara kerja fasilitas.
Umpan terkondisi
Material yang sudah dicacah atau diperas. Kadar air bebas yang lebih rendah dapat mengubah beban panas, tetapi pengaruhnya perlu diuji pada material lokasi.
Umpan reaktor
Material yang benar-benar masuk reaktor. Inilah angka yang harus dibandingkan dengan rancangan reaktor, waktu tinggal, dan keluaran yang ditargetkan.
MENGAPA LOKASI PENTING
Satu ton sampah
tidak selalu sama.
Komposisi, kadar air, ukuran partikel, jam operasi, dan pola pasokan mengubah kebutuhan sistem.
Pyronex mencantumkan kapasitas nominal sistem hingga 1 ton/jam dan pilihan rencana 1, 2, 4, serta 8 ton/hari pada acuan materi konfigurasi. Angka tersebut adalah dasar diskusi, bukan jaminan laju untuk semua umpan. Verifikasi dilakukan melalui karakterisasi dan survei lokasi.
Gunakan kalkulator pada halaman Pyronex II untuk menghitung laju rata-rata dari volume harian dan jam operasi. Hasilnya hanya pembacaan awal dan tidak menggantikan perhitungan neraca massa atau rancangan.
DATA SEBELUM PENAWARAN
Siapkan data yang
bisa dibandingkan.
Catat volume harian, pola puncak, komposisi, kadar air jika tersedia, fraksi yang dipisahkan, luas lahan, daya listrik, dan cara penanganan keluaran. Tanyakan satuan, titik timbang, jam operasi, dan batas material yang dihitung sebagai kapasitas.
Buka pilihan kapasitas Pyronex II